| 2 April 2018 | ADA banyak berita tentang kejahatan hipnosis yang bisa kita temukan di internet. Salah satunya ini: Seorang perempua...

Saya menjadi korban kejahatan hipnotis

1:42 PM A.S. Laksana 0 Comments

| 2 April 2018 |


ADA banyak berita tentang kejahatan hipnosis yang bisa kita temukan di internet. Salah satunya ini:

Seorang perempuan datang ke toko pakaian di sebuah desa, melihat-lihat pakaian di toko itu, dan memilih pakaian-pakaian berharga mahal yang ada di sana. Dalam percakapan dengan si pemilik toko, perempuan itu mengaku dirinya adalah perawat RSUD dan kenal dengan tetangga si pemilik toko.

Itu perkenalan yang cepat membangun kedekatan dan menumbuhkan kepercayaan si pemilik toko kepada perempuan yang datang mengunjungi tokonya. Profesi perawat adalah profesi yang baik dan “si perawat” kenal dengan tetangganya. Artinya, ia masih dalam lingkaran dekat.

Lalu perempuan itu memilih 30 baju paling mahal yang ada di toko itu. Kepada pemilik toko ia mengatakan: Pukul 12.30 nanti akan ada rapat di rumah sakit dan akan membantu menjualkan pakaian-pakaian itu di sana.

Si pemilik toko membuat rincian harga dan mereka menyepakati skema bagi hasil dan “si perawat” itu pergi membawa 30 baju paling mahal. Ia tidak kembali lagi.

Berita penipuan itu saya baca di website berita dengan judul Diduga Jadi Korban Hipnotis, Pemilik Toko Ini Rugi Jutaan Rupiah.

Efek kejahatan hipnosis dalam kasus penipuan itu diperkuat dengan pengakuan korban: ”Saat perempuan itu masih di toko, saya ya nurut saja apa yang diucapkannya.”

Pertanyaannya, siapa yang telah menghipnotis si pemilik toko?

Perempuan yang datang ke tokonya untuk melakukan penipuan tentu saja harus menampilkan diri sebagai orang yang layak dipercaya. Tidak ada penipu yang akan menampilkan diri sebagai penipu. Maka, ia menyebutkan profesinya sebagai perawat RSUD. Ia juga kenal dengan tetangga sebelah. Dan ia memilih pakaian-pakaian yang harganya paling mahal.

Ia menampilkan diri sebagai orang terhormat. Dan orang terhormat patut dilayani sebaik-baiknya, sebab ia akan mendatangkan keuntungan kepada pemilik toko. Karena itu wajar jika pemilik toko “… nurut saja apa yang diucapkannya.” Jika ia tidak nurut, ia kehilangan potensi penjualan besar.

Jika kasus semacam ini disebut kejahatan hipnosis, kita bisa mengatakan si pemilik toko menghipnotis dirinya sendiri. Apa yang diharapkan oleh pemilik toko terhadap orang yang datang mengunjungi tokonya? Orang itu akan membeli pakaian. Jika seseorang melihat-lihat dan memilih pakaian-pakaian mahal, tentu orang itu memiliki cukup uang. Pengunjung seperti ini harus dilayani sebaik-baiknya.

Ketika “pengunjung terhormat” itu menawarkan kerjasama yang bisa membuat dagangannya laku lebih cepat dan lebih banyak, ia lekas setuju. Si pengunjung menyebut tentang rapat di rumah sakit. Si pemilik toko membangun gambarannya sendiri tentang rapat tersebut. Di sana para dokter dan perawat dan bidan akan berkumpul. Dan seusai rapat nanti mereka akan membeli pakaian-pakaiannya yang berharga mahal.

Ya, si pemilik toko menghipnotis dirinya sendiri.

Hipnosis-Diri atau Self-Hipnosis atau Otohipnosis

Sebetulnya setiap orang menghipnotis dirinya sendiri—menanamkan sugesti terus-menerus kepada dirinya sendiri dan tentang dirinya sendiri. Setiap orang membangun keyakinannya sendiri dan mengembangkan kebiasaan sehari-hari mengikuti keyakinan yang ada di dalam pikirannya.

Orang-orang patah hati mengembangkan keyakinan mereka sendiri tentang patah hati dan hal-hal pahit berkaitan dengan urusan pacaran dan sebagainya. Orang-orang depresi membangun pandangan dunia mereka sendiri. Orang-orang yang tangguh memahami dunia dengan cara berbeda.

Orang-orang yang tangguh menghipnotis diri sendiri untuk menjadi tangguh. Orang-orang lemah menghipnotis diri sendiri untuk menjadi kian lemah dari waktu ke waktu: mereka mempertahankan gambar suram mengenai kehidupan dan nasibnya dan ketidakberdayaannya.

Kita memasuki kondisi hipnotik dengan cara memfokuskan perhatian kita pada satu pemikiran dan mempertahankannya terus-menerus dalam waktu lama. Jadi, anda adalah korban hipnosis yang anda lakukan terhadap diri sendiri. Anda menghipnotis diri sendiri untuk menjadi seperti sekarang.

Perubahan hanya mungkin terjadi jika anda menanamkan sugesti baru dan mempertahankannya terus-menerus. Itu tindakan yang memerlukan ketekunan dan keuletan, seperti anda mulai menumbuhkan tanaman baru dari benih. Anda menyiraminya setiap hari, menyingkirkan hama dan gulma, menyiangi tanah, dan sebagainya.

Hanya dengan ketekunan dan keuletan mensugesti diri sendiri—dengan cara apa pun—anda akan mengubah cara anda melihat kehidupan di sekitar anda, mengubah pandangan dunia anda, dan mengubah kebiasaan anda sehari-hari.

Jadi, anda menjadi korban hipnotis? Ya, anda menghipnotis diri sendiri.***

- Catatan: Gambar ilustrasi kejahatan hipnosis, diambil dari Merdeka.com

0 comments: